Good Bye Sampah Plastik !!!
Plastik adalah salah
satu penemuan manusia yang paling berguna, namun juga paling memusingkan.
Berguna karena fleksibel dan antiair sehingga bisa digunakan untuk banyak
keperluan manusia. Memusingkan karena sulit untuk diuraikan, termasuk oleh
bakteri, sehingga sampah plastik selalu menjadi masalah.
Namun sepertinya solusi
untuk menaggulangi masalah sampah plastik tersebut menemukan jalan terang.
Baru-baru ini, seperti dikabarkan ScienceAlert, Kamis (10/3/2016), sejumlah ilmuwan dari
Universitas Kyoto, Jepang, telah berhasil menemukan jenis mikroba pemakan
plastik.
Setelah lima tahun
meneliti 250 sampel sampah, mereka berhasil mengisolasi bakteri yang bisa hidup
dengan mencerna polietilena tereftalat (PET), resin polimer plastik
yang umum digunakan sebagai botol dan bahan pakaian. Mereka menamai spesies
baru bakteri itu Ideonella sakaiensis. Sakai adalah nama kota di Jepang
tempat bakteri tersebut ditemukan.
Dikutip Ubergizmo (10/3), Shosuke Yoshida, ahli mikrobiologi
Kyoto University, menyatakan selain memakan plastik, bakteri ini juga bisa
membuat tubuh mereka dari PET.
Plastik pada intinya adalah polimer,
rantai atom panjang yang dibentuk oleh molekul identik yang disebut monomer.
Sebagian besar plastik terbuat dari monomer karbon. Secara teoretis sebenarnya
karbon adalah sumber makanan mikroorganisme.
Akan tetapi, tidak
seperti polimer alami, plastik secara umum tidak bisa dicerna oleh makhluk
hidup. Hal itu, menurut The Conversation karena plastik baru ada pada 70 tahun
terakhir sehingga mikroorganisme yang ada di dunia saat ini belum memiliki
cukup waktu untuk berevolusi membangun perangkat biokimia guna memanfaatkan
plastik menjadi sumber energi dan makanan.
Hingga akhirnya Ideonella
sakaiensis ditemukan.
PET sebenarnya bisa
dihidrolisis secara kimiawi untuk kembali terurai menjadi monomer pembentuknya,
tetapi proses ini lambat serta membutuhkan panas dan tekanan yang tinggi.
Kemudian, pada September 2014, para
peneliti Yale University memang berhasil menemukan fungi yang bisa mengurai PET, tetapi proses
pengembangbiakkan fungi tersebut terbukti sulit dilakukan.
Ideonella
sakaiensis jelas jauh lebih efisien. Ia bisa memakan polimer
pada suhu relatif rendah, 30 derajat Celsius, dan sebagai mikrob tentu lebih
mudah dikembangbiakkan.
Dalam penelitian tersebut, menurut Science Alert, tim peneliti hanya meninggalkan PET dalam
wadah berisi air hangat dan memasukkan bakteri serta beberapa bahan nutrisi
lainnya. Beberapa pekan kemudian plastik itupun lenyap.
Tim Kyoto University, dipaparkan Scientific American menemukan bahwa I. sakaiensis menggunakan sebuah
enzim, yang mereka sebut PETase, untuk mengurai plastik menjadi mono(2-hydroxyethyl) terephthalic acid,
atau MHET. Enzim lainnya, dinamai MHETase, menghidrolisis MHET menjadi monomer terephthalic
acid dan ethylene glycol.
Para ilmuwan itu
berhasil mengidentifikasi gen dalam DNA bakteri yang menjadi sumber enzim
pencerna PET tersebut. Dengan demikian mereka bisa memanufaktur lebih banyak
enzim untuk kemudian mendemonstrasikan bahwa PET bisa dicerna hanya menggunakan
enzim tersebut.
Jika enzim itu
benar-benar bisa mengurai PET menjadi monomer pembentuknya, kemungkinan untuk
daur ulang sampah plastik secara sempurna menjadi terbuka.
Selama ini daur ulang plastik tidak
dilakukan dengan mendegradasinya kembali ke bentuk dasar, tetapi hanya
mencairkannya lalu mengubahnya menjadi produk plastik lain. Sementara
perusahaan-perusahaan pengepakan lebih memilih plastik baru untuk mengemas
produk mereka. Plastik baru itu dibuat dari bahan kimia berbasis minyak.
Enzim pengurai PET ini
bisa menghancurkan plastik kembali ke bentuk kimia dasarnya untuk kemudian
dibuat menjadi plastik baru. Ini akan menjadi proses daur ulang yang sempurna.
"Hal ini bisa menghemat banyak saat
memproduksi polimer baru kerena tidak perlu lagi material awal yang berbasis
minyak," kata Uwe T. Bornscheuer, ahli katalis enzim University of
Greifswald, dinukil Scientific American.
Saat ini tim Kyoto
University masih terus mengembangkan temuan mereka, terutama agar enzim
tersebut bisa bekerja lebih cepat --saat ini butuh waktu 6 minggu untuk
mengurai botol plastik-- sehingga akan ekonomis dalam skala industri.
Penemuan Ideonella sakaiensis itu tentunya
akan menjadi kabar gembira bagi dunia, termasuk Indonesia, yang semakin
dipenuhi sampah plastik ini.
Menurut Mark Loch, peneliti dari University of Hull, saat ini
manusia menghasilkan 300 juta ton sampah plastik setiap tahunnya.
World Economic Forum
(WEF) bahkan memperingatkan bahwa hampir sepertiga plastik di dunia lolos dari
program daur ulang dan menjadi sampah di alam bebas atau menyumbat
infrastruktur dan biasanya berakhir di lautan. Jika hal itu tidak segera
ditanggulangi, WEF memprediksikan pada tahun 2050 jumlah sampah di lautan akan lebih banyak
daripada jumlah ikan. Indonesia bahkan berada di peringkat kedua di dunia sebagai negara
penghasil sampah plastik ke laut terbanyak setelah Tiongkok.
Data dari Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan plastik hasil dari 100 toko
anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dalam waktu satu tahun
saja, sudah mencapai 10,95 juta lembar sampah kantong plastik.
Jumlah itu setara
dengan area seluas 65,7 hektare atau sekitar 60 kali luas lapangan sepak bola.
Padahal, KLHK menargetkan pengurangan sampah plastik lebih dari 1,9 juta ton
hingga 2019.
Salah satu upaya untuk
mengurangi penggunaan plastik, pemerintah Indonesia menerapkan peraturan agar
pembeli barang di supermarket dan minimarket membayar Rp200 jika ingin
menggunakan kantong plastik, alias tas kresek.
Jadi, Indonesia dan
dunia pasti sangat menantikan perkembangan penelitian Ideonella sakaiensis ini.
Bagi anda para
pengusaha kuliner, pemilik restoran dan jenis usaha makanan lainnya, kami
perkenalkan salah satu produk kemasan makanan terbaik, kemasan makanan murah, kemasan makanan
yang aman, dapat di desain kemasan makanan sesuai dengan keinginan dan kemasan makanan
yang ramah lingkungan yaitu Kemasan makanan greenpack, Kemasan makanan greenpack
merupakan produk cetak kemasan makanan, packaging makanan, box makanan
food grade, kemasan makanan kuah, packaging makanan anti bocor dengan kualitas
terbaik dan bahan import dari luar negeri sehingga sangat aman,
memenuhi standard Indonesia. Kemasan makanan food grade yang dibuat
dari virgin pulp. Kemasan makanan eklusif dengan beragam keunggulan
diantaranya menggunakan food grade paper, kemasan makanan anti panas dan kemasan makanan anti minyak, kemasan makanan yang dapat digunakan didalam microwave, kemasan makanan yang dapat
dimasukan kedalam lemari es, kemasan makanan yang mudah dalam penggunaan, kemasan makanan yang dapat didaur
ulang, kemasan makanan yang
ramah lingkungan.

Komentar
Posting Komentar